Desa Wisata Manding Kerajinan Kulit Asal Yogyakarta

Kerajinan Kulit Desa Wisata Manding

Desa Wisata Manding – Jika di Jawa Barat ada Cibaduyut dan di Jawa Timur terdapat Tanggulangin sebagai sentra industri kulit, Yogyakarta juga memiliki sentra industri kulit, yakni Manding. Berada di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo Manding Sabdodadi, Bantul, kawasan ini telah dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit sejak tahun 1957.

Kerajinan kulit Manding pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1970an hingga 1980an. Walaupun tidak sejaya dulu, tetapi saat ini kerajinan kulit Manding masih menjadi sentra desa wisata kerajinan kulit di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kawasan Manding memiliki sekitar 40 usaha kulit tradisional yang dikerjakan oleh ratusan warga sekitar. Kawasan Manding bisa disamakan dengan kawasan Cibaduyut yang berada di Bandung Jawa Barat.

Desa Wisata Kerajinan Kulit Manding berada d sekitar 15 km dari pusat kota Jogja ke arah selatan menuju Pantai Parangtritis. Akses menuju Manding mudah karena Jalan Parangtritis ini dilalui oleh banyak kendaraan umum seperti bis. Atau jika mengendarai kendaraan pribadi, maka perjalanan ke Manding akan lebih mudah.

Beragam kerajinan mulai dari dompet, sandal, sadal,jaket,sepatu dan tas kulit dapat anda temukan di sini. contohnya seperti gambar di bawah ini. Dikatakan Jumakir selaku ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) Desa Wisata Manding, saat ini terdapat sekitar 42 rumah rumah produksi, dan 48 showroom penjualan kerajinan kulit.

Showroom tersebut berjajar rapi sepanjang jalan di desa Manding dengan mudah akan kita temukan berbagai macam kerajinan yang terpajang apik di setiap etalase toko. Mulai dari sepatu, tas, sendal, jaket, ikat pinggang, topi, dompet, serta berbagai aksesoris yang terbuat dari kulit seperti, gantungan kunci, gelang, kalung dan pigura.

Desa Wisata Kulit Manding

Kawasan Manding dihuni oleh deretan showroom yang jumlahnya ada sekitar 40. Showroom-showroom ini menjual aneka produk kerajinan kulit dengan memberdayakan warga setempat sebagai pekerjanya. Setiap showroom biasanya mempekerjakan sejumlah karyawan sehingga dapat melayani pembeli dengan maksimal. Showroom di kawasan Manding ini buka setiap hari mulai dari pagi hingga malam hari. Karena jarak antarshowroom yang berdekatan, maka Anda bisa mengunjungi semua showroom dengan hanya berjalan kaki.

Produk-produk kerajinan kulit yang dihasilkan oleh kawasan manding ini adalah seperti jaket, sepatu, sandal, tas, ikat pinggang, dompet, serta berbagai asesoris yang terbuat dari kulit seperti pigura dan gantungan kunci. Kebanyakan produk Manding berasal dari kulit sapi dan masih diproduksi secara rumahan. Untuk membeli barang, Anda bisa melakukan proses tawar-menawar karena barang yang dijual di Manding ini kebanyakan dapat ditawar lebih murah lagi.

Harga Bervariasi

Model serta bentuk juga mempengaruhi harga, semisal untuk produk berbahan dasar murni kulit seperti jaket kulit antara Rp. 500 ribu hingga Rp1,5 juta. Sepatu mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 1 juta, tas mulai Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per sepatu.

Berbagai macam dompet kulit mulai dari Rp 50-250 ribu. Produk-produk yang lebih murah juga tersedia, namun tentu dengan komposisi bahan kulit dan sintetis.

Misalnya gantungan kunci mulai dari Rp 5000, sandal mulai Rp 35.000, tas mulai dari Rp. 50.000, serta ikat pinggang mulai Rp 10.000. Sedang untuk rumah produksi yang berjumlah 42, letaknya berada di tengah permukiman.

Saat ini, selain memproduksi barang-barang dari kulit, masyarakat Manding juga membuat barang kerajinan dari eceng gondok, pandan, serat alam, dan bahan sintetis. Selain wisata belanja, di Manding juga terdapat wisata edukasi.

“Kami melayani kunjungan wisatawan yang ingin melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan barang kerajinan dari kulit,” ujar Jumakir.

Wisatawan bahkan bisa langsung balajar membuat barang kerajinan, seperti dompet, tas, alas sepatu, dan nanti hasil karya mereka bisa dibawa pulang.

Dijelaskan Jumakir, awal mula Manding bisa menjadi pusat kerajinan kulit terbesar di Yogyakarta adalah dari tiga orang yang belajar membuat dan memperbaiki pelana kuda di Museum Kereta Keraton Yogyakarta.

“Saat itu pada tahun 1947, tiga pemuda kampung Manding belajar mengolah kulit disana. Selain belajar memperbaiki membuat dan pelana kuda, ketiga orang tersebut belajar secara otodidak bagaimana membuat kerajian lain,” katanya,

“Awal mula yang dibuat adalah ikat pinggang warok yang berukuran besar. Setelah belajar kurang lebih selama 10 tahun, akhirnya mereka pulang dan mulai membuka usaha di rumah,” sambung Jumakir.

Harganya yang murah jika dibandingkan dengan harga-harga produk serupa di mal atau pusat perbelanjaan, membuat kawasan Manding banyak diburu wisatawan yang ingin membeli produk kerajinan kulit. Keistimewaan produk kerajinan kulit Manding yang lainnya adalah kualitasnya yang bagus sehingga produknya bisa awet/ tahan lama. Pembeli pun bisa memesan produk sesuai dengan keinginan.

Saat ini kerajinan kulit Manding tidak hanya dipasarkan di desa tersebut tetapi juga dipasarkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, bahkan banyak juga yang dikirim ke luar negeri.

Akses menuju Manding

Bila dari arah kota Jogja menuju desa wisata Manding ini, silahkan kearah selatan mengikuti Jalan Parangtritis. Sesampainya di kilometer 11 akan ada perempatan lampu merah yang disebelah kanannya terdapat gapura besar bertuliskan sentra industri kerajinan kulit Manding.

Perjalanan kesana bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari kota Jogja, melalui terminal Giwangan carilah bus kecil jurusan jogja-parangtritis, kira-kira ongkos sekali jalan Rp 5000, atau bisa dengan menggunakan taksi, tentu saja agak sedikit mahal kira-kira Rp 50.000 dari pusat kota jogja.

Menggunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil akan lebih leluasa mengatur waktu, tidak terikat jam angkutan kendaraan yang ada.

Selamat berlibur.

Desa Wisata Manding Kerajinan Kulit Asal Yogyakarta
Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Satu tanggapan pada “Desa Wisata Manding Kerajinan Kulit Asal Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: