3 Kerajinan Indonesia yang Diklaim oleh Asing

Batik di Klaim Adidas

Kerajinan Indonesia – Daerah mana di Indonesia yang tidak memiliki budaya? Anda pun pasti akan kesulitan mencarinya bukan? Ya, karena hampir 100% daerah-daerah di Indonesia memiliki kebudayaannya. Dan kerajinan-kerajinan juga termasuk dari hasil kebudayaan daerah setempat.

Daerah mana di Indonesia yang tidak memiliki kerajinan? Anda pasti kesulitan mencarinya bukan? Ya, karena memang hampir 100% di daerah-daerah Indonesia memiliki kerajinan-kerajinan tersendiri yang khas dengan daerahnya. Bahkan daerah yang terpencil pun memiliki kerajinan mereka sendiri.

Mungkin saking banyaknya sehingga pemerintah kesulitan untuk melakukan pendataan kerajinan apa saja yang dimiliki oleh semua daerah di Indonesia. Pendataan yang memang perlu, dikarenakan produk kerajinan-kerajinan ini merupakan kekayaan budaya asli Indonesia. Sudah seharusnya juga pemerintah melakukan pendataan dan memberikan bantuan untuk mematenkan semua kerajinan yang dimiliki oleh Indonesia.

Negara-negara tetangga maupun oknum-oknum perusahaan besar sudah mulai melakukan klaim kepemilikan atas kerajinan-kerajinan dari Indonesia, yang sayangnya pemerintah Indonesia juga sangat lemah dalam mengupayakan agar klaim tersebut bisa dibatalkan apalagi yang sudah masuk ke dalam paten.

Berikut ini kerajinan dan hasil budaya dari Indonesia yang sudah di klaim oleh pihak lain diluar Indonesia:

1. Batik Jawa

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Dalam perkembangannya batik mengalami banyak revolusi terutama dalam motif dan corak. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Indonesia itu dikenal sebagai surganya batik.

Pada tahun 2006 Batik Jawa di klaim oleh perusahaan Adidas, yang menjadikan batik sebagai motif dalam produknya, misalnya adalah kaos adidas, sepatu adidas, jaket adidas, topi adidas, dan lain sebagainya yang bermotifkan Batik Jawa. Itu sudah merupakan pelanggaran HAKI, tapi bodohnya kita malah bangga karena produk adidas meluncurkan produk yang bermotifkan batik. Padahal apa yang dilakukan oleh Adidas ini merupakan bentuk pencurian.

Batik di Klaim Adidas

2. Desain Kerajinan Perak

Kisah sedih dialami pengerajin perak Desak Suwarti dari Desa Celuk, Gianyar, yang harus berurusan dengan WTO. Ia dituduh melanggar Hak Kekayaan Intelektual (Haki) atau Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs), karena menjual kepada orang lain desain produk yang pernah dibuatnya untuk konsumen berkebangsaan Amerika, yang selanjutnya mematenkan desain tersebut sebagai Haki miliknya.

Dan tidak terdengar ada bantuan yang kuat dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pemerintah Indonesia memang masih sangat lemah dalam asistensi terhadap kebudayaan dan hasil produk kreatif dari dalam negeri.

Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti

3. Motif Batik Parang dari Jogja

Motif batik parang dari Jogja ini berhasil menggemparkan masyarakat Jogja. Oleh karenanya pemerintah daerah segera melakukan pengajuan paten dan klaim untuk berbagai hasil kerajinan Indonesia kepada organisasi dunia. Setelah penetapan batik tulis Indonesia sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO, sekitar 350 motif batik Jogja kemudian dipatenkan. Hal ini untuk menyikapi klaim dan paten yang dilakukan oleh Negara Malaysia.

Batik Parang Jawa

Begitu banyak produk asli Indonesia yang di klaim sepihak oleh orang-orang luar negeri. Sudah waktunya bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam menjaga identitas asli Indonesia dan tidak dimanfaatkan secara ilegal oleh pihak lain.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

2 Responses

  1. Memang kita akui inilah sisi kelemahan kita, karena banyaknya budaya dan kerajinan yang terdapat di Indonesia yang masih belum terdaftar sehingga menjadi kesempatan oknum bangsa luar untuk mengakui dan mendaftarkan kerajinan tersebut menjadi kerajianan miliknya.
    Semoga pemerintah lebih memperhatikan permasalahan ini dengan membantu para pengrajin terkait agar dapat mematenkan kerajinannya dengan mudah tanpa harus bertele-tele.

    Sukses buat kita semua…

    Salam hangat,

    Rumah Sasirangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: