Lidi adalah bagian dari pelepah daun kelapa yang pada umumnya di gunakan kembali dengan cara diikat menjadi satu dan di jadikan sapu lidi, atau hal kecil lain yang biasanya kurang berhubungan dengan kesenian. Misal dijadikan alat dengan fungsi serupa staples tradisional untuk mengunci daun, atau orang Jawa biasa menyebutnya biting. Akan tetapi adalah kerajinan tenun lidi di Ciamis yang mulai menggeiat kembali sebagai komoditas kerajinan daerah, memfungsikan lidi sebagai bahan baku kerajinan.

Jika Anda pernah makan di restoran tersebut biasanya di bawah piring terdapat alas yang namanya “Placemate Toga”, yang pada umumnya terbuat dari anyaman dari bambu atau tenunan dari lidi. Selain itu kerajinan tenun lidi diolah menjadi aneka aksesori rumah tangga, seperti pelapis bingkai cermin, pelapis aneka kotak fungsional, dan taplak meja.

kerajinan tenun lidi
kerajinan tenun lidi

Cara membuat Kerajinan dari tulang daun kelapa ini dibuat dengan cara ditenun. Pengerjaannya sama seperti menenun kain. Awalnya benang dipintal menjadi gulungan besar, kemudian batang lidi kering yang sudah dibersihkan dipintal bersama benang. Lidi yang sudah dibuang daunnya disortir satu per satu untuk dicari mana yang layak dipakai. Lidi yang layak dipakai adalah lidi yang besarnya sama dan ukurannya lebih dari 35 cm. Lidi yang sudah disortir tadi ditenun dengan benang berwarna hitam. Untuk ukuran benangnya 60/3.

Kemudian, hasil tenunan setengah jadi dibuat berdasarkan permintaan konsumen dengan menambahkan beberapa bahan penolong, seperti potongan kain, jenis bebatuan kecil, pita, bahkan kerang-kerangan, sehingga menarik dan berdaya saing. Harga yang di tetapkan untuk produk terkecil dan sederhana dari kerajinan tenun lidi tersebut mulai dari harga Rp.5000 hingga ratusan ribu rupiah untuk produk yang besar dan rumit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here