Pasangan Disabilitas Ini Sukses Wirausaha Kerajinan Tangan

DI mana ada kemauan, di situ ada jalan. Kalimat ini tampaknya paling pas menggambarkan perjuangan dan usaha yang dilakukan oleh Ucil Ahmadi, pria yang terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh.

Perjuangan Ucil, begitu dia dipanggil, tak sendirian. Ia didampingi oleh sang istri, Supiah, yang juga merupakan penyandang disabilitas. Supiah harus memakai kaki palsu setelah mengalami kecelakaan saat masih berusia 17 tahun.

Keduanya dipertemukan saat bekerja di Tiara Handicraft. Cinta itu juga menyatukan hidup serta karya mereka.

Minggu, 5 Februari, 35 tahun silam, Ucil lahir. Orangtuanya tentu tidak menyangka anaknya terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh. Anak kedua di antara empat bersaudara tersebut lantas diberi nama Ahmadi. Tapi, teman-temannya menjuluki dia Ucil karena tubuhnya yang mungil. Ya, jadilah dia beken dengan nama Ucil Ahmadi.

Sedari kecil Ucil tinggal di Dusun Langon, Desa Ambulu. Orangtuanya selalu memanjakannya. Untuk makan, minum, dan mandi, dia selalu dibantu. Ke mana-mana selalu ditemani. Hidup Ucil bergantung pada orang lain. Ucil pun mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Dia minder dengan keadaannya. Tak jarang dia menjadi sasaran bully teman sebayanya. Hingga usia 23 tahun, Ucil masih saja bergantung pada orang lain dan jarang keluar rumah.

Semangat hidupnya nyaris sirna. Namun, seperti yang dituturkan pada jawapos, semuanya berubah ketika dia mendapat tawaran pelatihan menjahit dari Dinas Sosial Jember. Namun, pelatihan dilaksanakan di luar kota. Di Bangil, Pasuruan. Orangtuanya sempat khawatir melepas anaknya. Padahal, Ucil sudah dewasa. “Namanya orang desa. Pasti khawatir melepas anaknya yang cacat,’’ ucap Ucil.

Selama setahun Ucil ditempa. Pelatihan yang ditekuni ialah menjahit. Dia tidak menyangka, ternyata menjahit itu bisa dilakukan tanpa jari jemari.

Wawasannya terbuka. Bahwa selama ini tidak banyak kesempatan belajar yang diberikan untuk orang-orang dengan keterbatasan. Sebab, orang-orang “normal’’ menganggap penyandang disabilitas tidak pernah bisa bekerja dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.

Dan memang, setelah belajar, menjahit itu mudah. Semangat pun mulai tumbuh. Pada 2010 Ucil memutuskan magang kerja di Tiara Handicraft di Sidosermo, Kecamatan Wonocolo. Di situ, seluruh pegawainya adalah penyandang disabilitas.

Titik Winarti, pemilik Yayasan Bina Karya Tiara, menjadikan Ucil sebagai asisten pribadinya. Otak Ucil dianggap encer. Karena itu, dia mendapat tugas di bidang marketing sekaligus mandor. Mendapat kepercayaan tersebut, semangat Ucil semakin tinggi. Kini dia tidak lagi bergantung pada orang lain. Dia bisa menghidupi diri sendiri. Bahkan, bila ada uang lebih, dia mengirimnya ke orangtuanya di Jember.

Saat itu Ucil masih tidak kepikiran untuk menikah. Bahkan, terlintas di pikiran, dia akan menjadi jomblo abadi. Siapa yang mau menjadi pendamping hidupnya dengan kondisi fisik yang tak sempurna? Bisa bekerja dan mandiri saja sudah cukup memuaskan hatinya. Punya keinginan menikah dianggap terlalu muluk-muluk.

Setahun setelah Ucil bekerja di Tiara Handicraft, muncul sosok Supiah. Perempuan asal Dupak yang pendiam, tapi murah senyum.

Awalnya mereka berdua tidak punya rasa cinta satu sama lain. Bahkan, Ucil sempat memiliki kekasih sebelum menjalin hubungan dengan Supiah. Begitu pula Supiah. Dia punya pacar yang sama-sama pekerja Tiara Handicraft. “Memang di sana banyak yang cinlok. Ada paling sepuluh lebih,’’ ungkap Ucil malu-malu.

Ucil yang bekerja sebagai mandor punya tugas menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk para pekerja lain. Supiah bertugas memotong pola untuk tas, dompet, dan baju. Mau tidak mau, keduanya sering bertemu. Sebab, tugas memotong menjadi tugas pertama setelah bahan-bahan diserahkan mandor.

Witing tresna jalaran saka kulina. Cinta tumbuh karena terbiasa. Faith plants the seed, love makes it grow. Takdir. Ndilalah, keduanya sama-sama putus dari masing-masing pacarnya. Keduanya makin dekat. Setiap malam mereka berjalan-jalan mencari tukang bakso untuk makan malam alias dinner. Di mana pun tempatnya, apa pun makanannya, bila dilakukan saat jatuh cinta pasti terasa enak.

Lalu, siapa yang menembak duluan? Tentu, mereka salah tingkah. Supiah enggan menjawab. Dia menjulurkan jari telunjuknya ke arah Ucil. “Iya. Saya yang nembak,’’ ucap Ucil. Seketika itu wajahnya memerah.

Setahun berpacaran, Ucil akhirnya melamar Supiah. Perempuan kelahiran 5 Januari 1973 itu pun menantang Ucil datang ke rumah kakak Supiah untuk melamar. Sebab, Supiah sudah tidak punya orangtua. “Jajal se, wani ta? (Coba, apa berani?, Red) Ternyata berani. Ya wis (Ya sudah, Red) nikah,’’ kata Supiah sambil meringis.

Setelah menikah, mereka meminta izin untuk keluar dari Tiara Handicraft. Meski berat, mereka akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri di Jember. Pulang kampung. Keduanya membuka usaha permak baju. Setelah lima bulan membuka usaha sendiri, hasilnya tidak begitu menguntungkan. Di Jember, apalagi di desa, tidak ada yang suka memermak baju. Mereka akhirnya memutuskan kembali mengadu nasib ke Surabaya.

Saat kembali ke Kota Pahlawan, keduanya bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Visi di Banyu Urip. Dengan kemampuan yang diterima di Tiara Handicraft, Ucil dan Supiah mengajari para ibu dari keluarga kurang mampu untuk menjahit. Namun, kegiatan itu hanya berlangsung selama dua tahun.

Mereka berdua harus mencari tempat tinggal yang baru untuk membuka usaha. Keduanya akhirnya pindah ke rumah kos di Jalan Kandangan Jaya III Nomor 3. Tempat kos itu milik saudara Supiah. Keduanya bisa tinggal dengan cuma-cuma. Di situ ada ruang tamu, satu kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang tamu sudah penuh dengan puluhan produk tas dan dompet. Ada juga rak besi tempat barang-barang hasil kreasi dipajang.

Dua mesin jahit diletakkan di dekat pintu masuk. Di tempat itulah suami istri tersebut bekerja. Setiap hari mereka bisa membuat lima tas berukuran besar. Atau, 10 dompet berukuran kecil. Satu tas dihargai Rp165 ribu. Untuk suvenir yang lebih kecil, harganya Rp5 ribu hingga Rp25 ribu. Produk yang dibikin berbentuk mirip dengan produk Tiara Handicraft. Hal itu tidak masalah. Sebab, Ucil masih memiliki hubungan baik dengan Tiara Handicraft. “Kalau ada undangan pameran, saya masih sering membantu Tiara,’’ kata Ucil yang saat diwawancarai masih sibuk menyusun pola untuk tas jinjing.

Meski wujud produknya mirip, merek dagang harus berbeda. Produk bikinan Ucil dan Supiah diberi nama Kanta Craft. Produk-produk Kanta sudah disebar ke sejumlah sentra usaha kecil menengah (UKM). Ada yang berada di Balai Kota Surabaya, bappemas, BK3S, hingga sentra UKM Bungurasih. ’’Lumayan. Satu sentra bisa dapat Rp1 juta lebih setiap bulan,’’ jelas Ucil.

Rata-rata omzet setiap bulan mencapai Rp5 juta. Jumlah omzet bisa lebih tinggi ketika ada pesanan. Misalnya, saat ditemui Kamis, 2 Februari 2017, Ucil punya tugas membuat 500 tote bag untuk suvenir pernikahan. Membuat tas jinjing dari bahan kanvas itu tergolong mudah bagi Ucil dan Supiah. Sehari bisa 40 tas yang dihasilkan. “Kalau banyak pesanan, kadang saya berikan ke teman lain,’’ terang pria yang hobi mendengarkan radio tersebut.

Produk Kanta Craft sudah pernah dibeli Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Nina Soekarwo, istri Gubernur Jatim Soekarwo.

Namun, ada saja para pembeli yang tidak percaya produk yang dia jual adalah bikinan sendiri. Banyak yang menuduh produk tersebut dipesan dari orang lain. ’’Kalau tidak percaya, silakan datang ke sini. Kami buat dan jahit sendiri,’’ kata Ucil sedikit kesal.

Saat pulang ke Jember, Ucil bisa lebih percaya diri. Dia sudah punya usaha di kota besar. Melihat kesuksesan itu, sejumlah teman sebayanya yang dulu meremehkannya justru meminta untuk dicarikan pekerjaan di Surabaya. Ucil menawari mereka untuk menjadi pegawainya. Kerjanya ya menjahit. Namun, mereka menolak karena menganggap pekerjaan menjahit tidak menghasilkan banyak uang. “Mereka lebih senang macul. Atau, jadi kuli. Padahal, kalau mau menjahit, lumayan hasilnya,’’ sebutnya.

Ucil memang berencana mengembangkan usahanya. Beberapa orang yang dikenalnya dari Facebook menawarkan diri untuk menjadi pegawai. Kebanyakan di antara mereka adalah para penyandang disabilitas. Mereka datang dari berbagai tempat. Termasuk dari Jawa Tengah.

Namun, Ucil belum siap menerima pegawai. Sebab, tempat tinggalnya masih sempit. Dia kini sedang menabung untuk mencari tempat tinggal yang lebih luas.

Selain ingin membuka lapangan pekerjaan, mereka berdua punya impian menjadi pengajar dan motivator UKM. Salah satu kunci keberhasilan yang bakal mereka ajarkan ialah menghilangkan rasa malas. “Mosok awak dhewe usaha, Tuhan meneng ae. Pasti onok dalane (Masak, kita berusaha Tuhan diam saja. Pasti ada jalannya, Red),’’ ucap Supiah, lalu memandang wajah Ucil. (Salman Muhiddin)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: