Beranda Destinasi Pemakaman Rambu Solo, Tradisi Luhur Tana Toraja Sulawesi Selatan

Pemakaman Rambu Solo, Tradisi Luhur Tana Toraja Sulawesi Selatan

155
0
Rambu Solo Funeral

Tana Toraja – Merupakan salah satu daerah wisata yang memiliki daya tarik populer di Provinsi Sulawesi Selatan, dibawah administrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja. Ada banyak suguhan kebudayaan yang bisa dinikmati selama berada disana, kebudayaan khas Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dengan budaya khas Austronesia asli.

Di Tana Toraja, terdapat beberapa budaya serta tradisi luhur yang terkenal seperti:

  • Pemakaman Rambu Solo,
  • Rumah Adat Tongkonan,
  • Upacara Rambu Tuku,
  • Pekuburan Gua Londa,
  • Pekuburan Batu Lemo dan
  • Pekuburan Bayi Kambira.

Dalam artikel ini, Kampoong.com akan membahas tentang ritual upacara rambu solo, sebuah tradisi pemakaman yang masyhur dan terkenal seantero dunia.

Pemakaman Rambu Solo

Masyarakat Suku Toraja memiliki tradisi khas dan unik dalam rangkaian upacara pemakaman yang biasa disebut Rambu Solo. Sebuah rangkaian kegiatan yang penuh dengan ikatan adat serta upacara yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Tradisi upacara pemakaman rambu solo ini biasa diadakan pada bulan Juli dan Agustus. Ini dikarenakan keluarga yang ditinggalkan akan mensemayamkan jenazah selama sekian waktu hingga hitungan bulan bahkan tahun demi menunggu berkumpulnya semua sanak keluarga dari orang yang meninggal. Atau dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman yang mahal.

Ritual pemakaman Rambu Solo, merupakan ritual yang paling penting bagi masyarakat tana toraja. Dalam agama aluk yang di anut oleh masyarakat setempat, yang berhak menggelar upacara pemakaman besar-besaran hanyalah keluarga bangsawan dan berkuasa. Tempat prosesi pemakaman dalam ritual ini disebut rante, sebuah padang rumput yang sangat luas sekaligus sebagai lumbung padi dan tempat perlengkapan upacara pemakaman lainnya. Bagi anggota bangsawan Suku Toraja, maka akan tersaji musik, nyanyian, tangisan hingga ratapan duka cita mengiringi prosesi pemakaman ini.

Masyarakat Tana Toraja mempercayai bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba namun sebuah proses bertahap dalam rangka menuju Puya atau dunia arwah/akhirat. Dalam masa penungguan ini, jenazah dibungkus beberapa helai kain kemudian disimpan di bawah rumah adat tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya. Semakin tinggi makam jenazah semakin cepat pula arwah menuju alam surga.

Sesembahan atau Kurban

Dalam prosesi pemakaman ini, keluarga dari yang meninggal akan memberikan sesembahan kepada arwah yang meninggal berupa penyembelihan kerbau. Semakin kaya seseorang maka semakin banyak juga jumlah kerbau yang disembelih. Sesembahan kerbau ini dikarenakan kepercayaan masyarakat bahwa arwah akan membutuhkan kerbau dalam melakukan perjalanannya menuju Puya, maka semakin banyak kerbau yang dipersembahkan akan semakin cepat bagi arwah sampai pada Puya.

Jumlah pemotongan kerbau untuk prosesi pemakaman rambu solo ini mulai dari 24 kerbau hingga 100 ekor kerbau sebagai kurban, dalam bahasa toraja disebut Ma’tinggoro Tedong. Upacara pemotongan kerbau ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri dimana kerbau langsung dipotong dengan cara menebas lehernya dalam sekali ayunan.

Kerbau Sesembahan Suku Toraja

Bahasa Toraja

Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa’dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja. Ragam bahasa di Toraja antara lain KalumpangMamasaTae’ Talondo’ Toala’ , dan Toraja-Sa’dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.

Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang dukacita kematian. Pentingnya upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan dukacita dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit. Bahasa Toraja mempunyai banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan mental. Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara jelas menunjukkan pengaruh dari peristiwa kehilangan seseorang; hal tersebut kadang-kadang juga ditujukan untuk mengurangi penderitaan karena dukacita itu sendiri. (Wikipedia).

Bukit Makam Tana Toraja

Akses Menuju Tana Toraja

Bagi Anda yang ingin bepergian wisata ke Tana Toraja di Sulawesi Selatan, tersedia beberapa pilihan transportasi untuk perjalanan kesana. Dari Palopo, anda bisa menggunakan transportasi darat menuju lokasi. Bila Anda mendarat di Bandara Palopo maka ada transportasi yang siap mengantarkan Anda selama kurang lebih 1-1,5 jam.

Bila Anda dari luar Palopo, maka perlu untuk menuju Makassar terlebih dahulu menggunakan pesawat terbang ataupun perjalanan darat. Perjalanan darat kota Makassar ke Tana Toraja ditempuh selama 8 jam.

Jika dari Jakarta, bisa menggunakan beberapa pesawat yang sudah menyediakan rute Jakarta (CGK) ke Makassar (UPG). Beberapa maskapai yang melayani adalah:

  • Garuda Indonesia
  • Citilink
  • AirAsia
  • Lion Air
  • Sriwijaya
  • Batik Air

Untuk penerbangan dari Makassar menuju Palopo ada tersedia:

  • Garuda Indonesia
  • Wings Air

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here