Penemu Seni Lukis Tanah Liat Asal Makassar – Zaenal Beta

zaenal beta melukis dengan bahan tanah liat

Dengan tatapan sayu, Zaenal Beta mencoba menyelesaikan gambar rumah adat suku Toraja, Tongkonan. Hanya dalam waktu tiga menit, warga Jalan Inspeksi Kanal, Kelurahan Mandala, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar ini mampu menyelesaikan gambar itu.

Zaenal melukis Tongkonan tanpa contoh potret, tapi mengandalkan daya ingat. Dia mengaku tidak kesulitan, karena bentuk dan lekukan rumah Tongkonan sudah hafal di luar kepala. Pria lulusan SMP ini begitu fasih melukis Tongkonan, karena sudah puluhan tahun menjadi pelukis dengan media tanah liat.

“Sudah 36 tahun saya menjadi pelukis tanah liat dengan berbagai jenis gambar,” kata Zaenal di Museum La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (20/3/2017).

Zaenal menjelaskan, melukis dengan tanah liat cukup menantang, utamanya dalam segi waktu. Pelukis harus bergerak cepat dalam menuangkan guratan, sebelum tanah liat yang ada di kertas mengering.

Namun bila kering, sebetulnya bisa diakali dengan membasahi titik lukis menggunakan air secukupnya. Hanya, bila terlalu banyak air, tanah liat akan menjadi lebih tipis dan kertas rawan robek.

“Melukis dengan tanah liat harus fokus dan diutamakan diselesaikan dalam sekali kegiatan,” imbuhnya.

Di dunia seni lukis, nama Zaenal Beta sudah tidak asing lagi. Dia bahkan dijuluki maestro oleh para pelukis yang ada di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, sejak 1986.
Tidak hanya itu, hasil karyanya juga sudah mengorbit ke negara-negara eropa seperti Prancis, Kanada, Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan sebagainya.

Terjual Dengan Harga Tinggi

Setiap hasil karyanya dijual dengan harga bervariasi, dari Rp 150 ribu sampai Rp 25 juta. Semakin tinggi tingkat kesulitan, maka hasil karyanya semakin mahal. Bahkan, dia mengklaim, seni lukis tanah liat miliknya merupakan pertama kali di dunia.
Hal itu berdasarkan penuturan para pelukis dunia yang berkunjung ke galeri miliknya di dekat Benteng Fort Rotterdam.

“Rata-rata orang asing yang membeli lukisan saya berkata seperti itu. Mereka mengakui, seni lukis tanah liat baru ada di Indonesia, yaitu di Makassar,” ujar Zaenal.
Zenal mengakui seni yang dia tekuni ini terilhami secara tidak sengaja. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP pada 1980, Zaenal tengah membayangkan bentuk dan lekukan rumah Tongkonan.

Saat melamun itu, dia melihat sebuah kertas terjatuh di atas lumpur. Dia kemudian mengambil kertas itu dan menuangkan lumpurnya hingga berbentuk rumah Tongkonan ke kertas yang lain. Dalam lima menit, sketsa Tongkonan mampu dia selesaikan dengan karya yang cemerlang.

“Sejak kecil saya memang suka dengan seni melukis, ditambah lagi dengan peristiwa jatuhnya kertas di atas lumpur. Saya kemudian terilhami melukis dengan media tanah liat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, para pengemudi Datsun Go dan Go+Panca atau risers yang tergabung dalam Datsun Risers Expedition (DRE) 2, berkesempatan mencoba seni lukis tanah liat. Mereka melukis sambil dibimbing Zaenal.

Imam Sidik (26), salah satu risers, mengaku baru pertama kali mencoba seni lukis tanah liat. Menurutnya,  Seni Lukis Tanah Liat lebih sulit dibanding seni lukis pada umumnya yang masih menggunakan cat warna sebagai bahan dasar.

“Seni lukis cat kan pakai kuas, kalau ini pakai tangan kosong dan irisan bambu kecil sebagai pembentuk arsiran dan guratan. Jadi sangat sulit,” tutur Imam.

Imam mencoba menggambar pemandangan gunung yang di bawahnya terdapat laut nan indah. Tidak lupa, di sisi kanan dan kirinya dia ukir beberapa pepohonan agar pemandangan lebih asri.

“Cukup menantang dan menarik, karena agak sulit Seni Lukis Tanah Liat,” ungkapnya.

Penemu Seni Lukis Tanah Liat Asal Makassar – Zaenal Beta
Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: