Beranda Ragam Songkok to Bone yang Indah dari Makassar

Songkok to Bone yang Indah dari Makassar

1963
1
Songkok To Bone

Songkok recca’ atau songkok to Bone merupakan kerajinan songkok khas Bugis Makassar. Songkok Recca’ muncul pada masa terjadinya peperangan antara Bone melawan Tator tahun 1683. Pasukan Bone pada waktu itu menggunakan songkok recca’ sebagai tanda khusus untuk identitas pasukan.

Sebenarnya seandainya menyaksikan bahan dasarnya, tak ada yg spesial dari songkok to Bone tersebut. Dari bahan atau teknik pembuatannya pun biasa-biasa saja. Sebut saja pelepah pohon lontar yg dipukul-pukul & diurai sampai jadi serat yg halus.

Serat ini biasanya berwarna putih, setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. Untuk mengubahnya menjadi hitam bukan karena sengaja diberi pewarna tetapi serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar. Bahan yang lain yakni benang berwarna keemasan & sekian banyak helai bulu rambut kepala kuda yg diperlukan yang merupakan pembatas antara ujung bidang atas tengah songkok & sektor yang lain.

Untuk menganyam serat jadi songkok memanfaatkan acuan yg dinamakan Assareng yg terbuat dari kayu nangka setelah itu dibentuk sedemikian rupa maka menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yg diperlukan utk merangkai serat sampai jadi songkok. Ukuran Assareng yang digunakan tergantung dari besar kecilnya songkok yg akan dibuat

Pada zaman pemerintahan Andi Mappanyukki (raja Bone ke-31), songkok recca diberi hiasan dengan pinggiran emas, dalam bahasa Bugis yaitu pamiring pulaweng sebagai identitas strata sang pemakainya. Semakin tebal ukuran benang emasnya maka semakin tinggi derajat strata pemakainya.

Perkembangannya pada saat ini, Songkok Recca’ berhak dipakai oleh siapapun, terutama pada acara dan pesta adat. Semakin tebal ukuran benang emasnya maka dipastikan sang pemakai adalah kalangan bangsawan. Beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan memproduksinya sebagai bentuk industri kerajinan masyarakat. Songkok Bugis ini merupakan hasil dari cipta, rasa, dan karsa orang Bone dan mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat Sulawesi sebagai salah satu bentuk pelestarian artefak budaya.

Keberadaan Songkok To Bone tidak dapat dipisahkan bersama salah satu desa di Kecamatan Awangpone, ialah Desa Paccing. Desa Paccing merupakan pusat pengrajin songkok To Bone. Mayoritas warganya adalah pengrajin songkok To Bone, Dimana dalam daerah tersebut terdapat komunitas masyarakat yang secara turun temurun mengayam pelepah daun lontar yang juga merupakan bahan dasar dari songkok ini.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here